Selasa, 24 Februari 2009 | 12:09 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Ahli paru-paru dari Fakultas Kedokteran Universitas indonesia, Menaldi Rasmin, mengungkapkan bahwa 25 persen perokok pemula akan terus merokok.
Hal tersebut diungkapkan Menaldi dalam diskusi bertema rokok di Hotel Millenium, Jakarta, Selasa (24/2). Menurut Menaldi, para remaja ingin dianggap gagah ketika merokok. "Ini menyeramkan karena memicu ketergantungan," tambah Menaldi.
Perokok di Indonesia, katanya, 80 persennya merokok kretek. Rokok tanpa informasi kandungan zat kimia ini justru kadar tar dan nikotinnya 2-3 kali lebih tinggi daripada rokok filter.
Menaldi menambahkan bahwa adiksi nikotin yang melekat di otak 5-10 kali lebih kuat dari pada narkotika. Efek tenang yang dikeluarkan nikotin merupakan pemaksaan hormon dopamine (hormon penimbul ketenangan). Akibat dipacu, maka per tahunnya produksi dopamine meningkat dan menimbulkan kecanduan.
Konsumsi rokok kretek di desa, tambah Menaldi, diperkirakan mencapai 80 persen dari pada kota yang hanya 60 persen.
Ia menyayangkan perokok yang menghabiskan seperempat penghasilannya untuk rokok dan mengabaikan biaya utama kehidupannya. "Mereka mengutuk pemerintah biaya sekolah mahal, tapi rokoknya jalan terus," ucap Menaldi.
Psikolog dari Universitas indonesia Rita Damayanti mengatakan kecenderungan merokok ditemukan pada sekolah-sekolah tertentu.
Adapun fatwa haram merokok yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia, peneliti Lembaga Demografi Universitas indonesia Abdillah Ahsan menilai itu kurang efektif. Alasannya, perokok berusia di bawah 20 tahun hanya tujuh persen dari populasi perokok. Begitupula perokok wanita ternyata hanya 4,5 persen, tanpa diketahui berapa wanita hamil yang merokok.
DIANING SARI
Senin, 06 April 2009
Langgan:
Entri (Atom)


