| Selasa, 04/03/2008 | |||
PALEMBANG (SINDO) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumsel mencatat komoditas makanan tidak mendominasi nilai inflasi Palembang menjadi 0,35%.
Kepala BPS Provinsi Sumsel M Haslani Haris mengatakan, sepanjang Februari 2008, beberapa komoditas sandang dan perumahan menyumbang inflasi cukup besar hingga 0,09%.
”Iya benar, pada bulan itu harga kebutuhan beberapa jenis rokok baik yang keretek maupun filter mengalami kenaikan. Ini menyebabkan barang tersebut menyumbang inflasi sekitar 0,00944% untuk rokok keretek dan 0,0878% untuk rokok keretek filter,”ungkapnya saat menyampaikan berita resmi statistik di kantornya kemarin.
Bukan hanya itu,dia menuturkan, barang kebutuhan perumahansepertisemendan besi juga mewarnai jenis barang yang menyumbang inflasi selama Februari ini.Dia menyatakan, bulan sebelumnya komoditas makanan yang mendominasi, kali ini semen memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,04% atau kenaikan harganya mencapai 5,9%.
Bahkan dia mengungkapkan, untuk besi beton, sumbangan inflasi yang diberikan mencapai 0,06% dengan kenaikan harga yang sangat tinggi mencapai 47,8%. Lebih jauh Hasalani menjelaskan, kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan IHK (deflasi) pada Februari 2008, berasal dari empat jenis kelompok pengeluaran, masing-masing yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 1,19%, kelompok perumahan 0,87%, kelompok sandang 0,32%, dan kelompok transportasi dan komunikasi 0,06%.
Berdasarkan pemantauan harga selama Februari 2008 pada empat pasar,harga konsumen, ujar Haslani,umumnya mengalami kenaikan. Jadi, Kota Palembang mengalami inflasi sebesar 0,35%, yang artinya mengalami penurunan dari inflasi secara nasional sebesar 0,65%. Dia menuturkan, inflasi sebesar 0,35% membuat akumulatif inflasi sampai Februari untuk Kota Palembang sebesar 1,26%, atau lebih tinggi dibandingkan akumulasi periode yang sama pada 2007.
”Jika perbandingannya demikian, berarti pada bulan itu memang ada komoditas-komoditas istimewa yang mengalami kenaikan, seperti semen, rokok, dan besi, yang justru tidak terjadi pada Januari–Februari 2007,” ungkapnya. Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri) Didiek Susetyo memperkirakan, inflasi beberapa bulan ke depan cenderung naik, menyusul sentimen pasar yang terpengaruh oleh isu kabar kenaikan gaji PNS.
Dia memprediksi, inflasi tinggi cenderung terjadi hingga April mendatang, sesuai dengan ketentuan pemerintah yang akan merapelkan gaji PNS pada bulan tersebut. Sedangkan mengenai kenaikan harga komoditas rokok selama Februari, yang menyumbang inflasi tinggi diakuinya terjadi karena adanya penyelenggaraan eventevent berskala besar yang menggunakan sponsor rokok, sehingga membuat demandnya meningkat.
Karena itu, dengan akumulasi inflasi hingga Februari sebesar 1,26%, inflasi Kota Palembang ke depan diperkirakan tetap tinggi. Melihat akumulasi itu, sudah bisa diperkirakan nilai inflasi ke depan akan lebih tinggi dibandingkan 2007,”pungkasnya. (komalasari)




